Siswa di Indonesia yang mengambil mata kuliah biologi biasanya karena tidak suka matematika atau fisika, sementara yang senang matematika atau fisika merasakan pelajaran biologi itu menarik, tapi terlalu banyak menghafal. Padahal kita perlu siswa yang dapat memahami biologi dari sudut kimia, fisika, atau matematika. Biologi bukan hanya berisi deskripsi atau kumpulan fakta. Banyak fenomena biologi hanya dapat diungkapkan oleh peneliti dengan latar belakang kimia, fisika, atau matematika yang kuat. Pengajaran Biologi seharusnya dapat melibatkan mahasiswa secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian diharapkan mahasiswa tidak hanya pintar menghafal yang akibatnya tidak saja memberi kesan biologi sebagai ilmu yang membosankan, tetapi juga mematikan kreativitas mahasiswa. Untuk itu Universitas perlu menyediakan sarana yang memadai, yang memang akan berbeda dengan kebutuhan departemen atau program studi lain, baik dalam hal ketersediaan peralatan, bahan kimia, dan spesimen hayati; tetapi juga biaya rutin dan perawatan yang mesti disediakan.
Apakah ada Departemen Biologi yang tidak mempunyai mikroskop? Jawabnya pasti tidak ada; khan aneh kalau tidak punya instrumen tersebut. Tapi, yang perlu dicermati adalah bagaimana kuantitas dan kualitasnya. Satu mikroskop yang dipakai untuk dua mahasiswa akan berbeda sekali nilai pembelajarannya dengan satu mikroskop untuk enam mahasiswa; apalagi bila lensanya sudah buram karena tidak cukup dana untuk perawatan rutin. Penerimaan jumlah mahasiswa yang tidak diimbangi dengan ketersediaan sarananya, secara langsung atau tidak langsung akan menurunkan kualitas lulusan yang pada gilirannya akan menghasilkan SDM yang tidak kompetitif dalam bidang keilmuannya. Mahasiswa yang mestinya akan menjadi lulusan yang andal dalam analisis jasad renik, dapat menjadi benci terhadap mikrobiologi bukan hanya karena frustasi tak bisa melihat obyek mikro dalam lensa yang buram tetapi juga karena kurang kesempatan untuk eksplorasi sendiri akibat minimnya jumlah mikroskop. Alih-alih mereka asyik menikmati keindahan dunia jasad renik, tiap kali pelajaran Mikrobiologi malah jadi tersiksa karena mesti menghafal saja bahwa Strombidium sulcatum itu suatu Protista heterotrofik, bersilia, dan jauh lebih besar ukurannya dari bakteri. Kalau saja sarananya memadai, mahasiswa ini mungkin dapat mendeskripsikan keindahan motilitas predator mikro yang lincah ini dari pengamatannya sendiri, bukan hanya dari menghafal catatan yang diberikan dosen! Bagaimana mahasiswa dapat mengekstrak potensi aplikasi Strombidium sulcatum untuk bioremediasi dan biokontrol, kalau sarana untuk mengamati tarian gemulai Ciliata ini masih jauh tertinggal dari sarana untuk nonton Indonesian Idol. Tidaklah terlalu mengherankan jika banyak lulusan biologi atau pertanian lebih senang bekerja di bank atau entertainment daripada pekerjaan yang bernuansa laboratorium.
Ketersediaan ruangan dan fungsi laboratorium juga merupakan sejumlah parameter yang perlu diperhatikan dengan serius. Laboratorium cenderung dinilai keberhasilannya karena mampu menjual jasa analisa. Kegiatan esensial suatu laboratorium mestinya adalah produksi publikasi atau kekayaan intelektual nasional atau internasional yang bermutu sehingga membuat laboratorium, departemen, dan fakultas akhirnya universitas disegani secara internasional. Tapi ini semua tidak bisa cuma bottom-up, tapi perlu dukungan dan implementasi visi dari pimpinan, karena bidang-bidang ini umumnya tidak nampak langsung aplikasinya dan tidak glamour, tapi karena ia fondasi maka ia perlu kuat. Tanpa dukungan nyata, penelitian MIPA yang mestinya “dasar”, yang seringkali lebih “njlimet” dan perlu sarana yang tidak murah; akan terseret ke penelitian “aplikasi”, yang relatif lebih mudah memperoleh dana dari swasta atau pemerintah, sehingga makin sedikit yang melakukan riset dasar dengan serius. Keadaan ini akan mendorong keroposnya fondasi untuk ilmu-ilmu aplikasi.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya, pengajaran biologi yang baik bisa memperluas cakrawala mahasiswa tentang keragaman genetik dan refleksinya pada penampilan fenotip, sehingga memungkinkan mahasiswa menghargai berbagai keunikan pandangan dan pribadi manusia. Pada gilirannya pandangan ini akan merangsang tumbuhnya scientific atmosphere yang menjadi titik tolak untuk memicu kreativitas dan inovasi. Hal ini membutuhkan komitmen dan dukungan untuk dapat sintas dan berkembang (saat ini pada umumnya untuk ilmu-ilmu hayati masih sulit untuk mencapai standard internasional akibat fasilitas atau sarana laboratorium yang tidak memadai). Oleh karena itu, universitas mesti dapat beradaptasi secara dinamis sesuai dengan kebutuhan konsumen, yaitu: bersedia melayani mahasiswa semaksimal mungkin dalam semangat untuk memproduksi SDM unggul yang mampu memanfaatkan kekayaan alam seoptimal mungkin. Isi pengajaran biologi itu sendiri juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan temuan-temuan dari Biologi Molekuler, Bioteknologi, Bioinformatika; serta berbagai interaksinya yang semakin lintas disiplin. Kini tidak mungkin dapat memahami biologi modern tanpa dasar kimia, fisika, atau matematika yang baik. Selain itu, penelitian yang lintas disiplin pada umumnya akan lebih menyenangkan, dan menantang buat mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar